Tampilkan postingan dengan label KISAH TAULADAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH TAULADAN. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 November 2015

Kisah Tsa’labah bin Abdurrahman Sang Remaja Mulia

Tidak ada komentar:
Kisah Tsa’labah bin Abdurrahman Sang Remaja Mulia



Inilah kisah tentang Tsa’labah 
Pemuda Anshar pd zaman Nabi
Tugas Nabi ia jalani
Tak sengaja melihat perempuan mandi
Tsa’labah sadar diri
Takut alang kepalang
Berlari ia terus mendaki
Bersembunyi di sebuah gunung
40 hari Tsa’labah pergi
Sang Nabi merasa kehilangan
Dan Jibril datang membawa berita
Tentang laki-laki yg menyesali diri
Umar (ibn Khaththab) dan Salman (al-Farisi)
Diutus Nabi menjemput Tsa’labah
Kesana kemari sampailah jua
Pada perbukitan sekitar Madinah
Ada seorang laki-laki di bukit ini
Ia berlari dari Neraka Jahannam
Demikian informasi seorang gembala
Umar dan Salman terpana
Ketika malam tiba
Laki-laki itu keluar dari bukit itu
Tangannya diletakkan di kepala
Seraya berkata kepada Tuhan-nya
Oh Tuhan!
Cabut saja nyawaku
Binasakan tubuhku
Jangan biarkan aku menunggu keputusan-Mu
Lalu mereka menjemput Tsa’labah
Terkejut ia berjumpa dua sahabat
Ingin ia berlari
Tapi kembali adalah perintah Nabi
Tsa’labah malu bersua Nabi
Bersedia datang tak bertatap muka
Tak kuasa ia roboh lalu pingsan
Dalam shaf sebuah shalat
Bertanyalah sang Nabi pd Tsa’labah
“Mengapa kau menghilang dariku?”
“Dosaku! Dosaku! Ya Rasulullah…
Dosaku sangat besar!”
Lalu Nabi mengajarkan sebuah do’a (QS. 2: 201)
“Dosaku sangat besar”
Tapi kalamullah lebih besar
Demikian sabda sang Nabi


Pulanglah Tsa’labah dalam penyesalannya
Tubuhnya rubuh dan sakit mendera
Delapan hari ia terbaring tak berdaya
Dan Nabi datang menjenguknya
Kepala Tsa’labah diletakkan di pangkuan
Seorang Nabi dgn penuh kasih
Tapi Tsa’labah enyah
Tak pantas karena dosa katanya
Apa yg kau rasa wahai Tsa’labah?
Bertanya sang Nabi
Seperti dikerubut semut
Tulang, daging, dan kulitku
Apa yang kau inginkan duhai sahabat?
Ampunan Tuhan-ku!
Ketika itu Jibril datang membawa berita
Bahwa Allah telah mengampuninya
Tenaglah hati si pembuat dosa
Tsa’labah pergi untuk selamanya
Dan malaikatpun ramai melayat
Jasad terbujur seorang ahli taubat
Inilah kisah seorang Tsa’labah
Jika terjadi pada diri
Akankah menyesali
dan tak akan mengulangi?
**DM-Ruang Renung, 20111110
—^^^—^^^—

Tsa’labah bin Abdurrahman Radiyallahu ‘anhu
Tersebutlah seorang pemuda dari kaum anshar yang bernama Tsa’labah bin Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dan cekatan. Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam mengutusnya untuk suatu keperluan.

Dalam perjalanannya dia melewati rumah salah seorang dari Anshar, maka terlihat dirinya seorang wanita Anshar yang sedang mandi. Dia takut akan turun wahyu kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menyangkut perbuatannya itu. Maka dia pun pergi kabur.
Dia berlari menuju ke sebuah gunung yg berada diantara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya. Tsa’labah tinggal disana dan senantiasa bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menangis selama empat puluh hari. Kepergian Tsa’labah membuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam merasa kehilangan.
Lalu Jibril alaihissalam turun kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, `Sesungguhnya seorang laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku.'”
Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan para sahabatnya untuk mencari Tsa’labah. Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam berkata, “Wahai Umar (ibn Khaththab) dan Salman (al-Farisi)! Pergilah cari Tsa’labah bin Aburrahman, lalu bawa kemari.”
Keduanya pun lalu pergi hingga sampailah mereka menyusuri perbukitan di sekitar Madinah. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah.

Umar bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu seorang pemuda di antara perbukitan ini?”

Penggembala itu menjawab, “Apakah yang engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?”
“Bagaimana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam?” tanya Umar.
Dzaufafah menjawab, “Karena, apabila malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusan-Mu!”

“Ya, dialah yang kami maksud,” tegas Umar.
Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama.

Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Wahai Tuhan!, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan-Mu!”
Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya.

Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?”
“Aku tidak tahu, yg jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu.”, jawab Umar.
Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan shalat”

Ketika mereka menemukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam tengah melakukan shalat, Umar dan Salman radiyalahu ‘anhuma segera mengisi shaf. Tatkala Tsa’labah mendengar bacaan ayat Allah yang dibaca Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, dia tersungkur dan jatuh pingsan.
Setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam mengucapkan salam, beliau bersabda, “Wahai Umar! Wahai Salman! Apakah yang telah kau lakukan Tsa’labah?”
Keduanya menjawab, “Ini dia, wahai Rasulullah!”

Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan Tsa’labah yg membuatnya tersadar.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berkata kepadanya, “Mengapa engkau menghilang dariku?”
Tsa’labah menjawab, “Dosaku, ya Rasulullah!”

Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam mengatakan, “Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yang apat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?”
“Benar, wahai Rasulullah.”, jawab Tsa’labah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Katakan… Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka.” (QS al-Baqarah: 201)
Tsa’labah berkata, “Dosaku wahai Rasulullah, sungguh sangat besar.”
Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Akan tetapi kalamullah lebih besar.”

Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan Tsa’labah agar pulang kerumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama delapan hari.
Mendengar Tsa’labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa’labah? Dia sekarang sedang sakit keras.”

Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa’labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa’labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau.
“Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?” tanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam.
“Karena aku penuh dengan dosa.” Jawabnya
Beliau bertanya lagi, “Bagaimana yang engkau rasakan?”
“Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku.” Jawab Tsa’labah.
Beliau bertanya, “Apa yang kau inginkan?”
“Ampunan Tuhanku”, jawabnya.

Maka turunlah Jibril ‘alaihissalam dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, `Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula.’ (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka segera Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membertahukan hal itu kepada Tsa’labah. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa’labah dan langsung meninggal.
Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan agar Tsa’labah segera dimandikan dan dikafani.

Ketika telah selesai menyalatkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat.”
Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Karena banyaknya malaikat yang turun melayat Tsa’labah.”

Subhanallah… Allahu Akbar!
Kisah Tsa’labah radiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang mulia. Ada banyak hikmah dari kisah ini, terutama keagungan sikap Tsa’labah dalam menyikapi rasa bersalahnya. Sebuah kesalahan yang mungkin dianggap sepele oleh kita, namun tidak untuk seorang Tsa’labah.

Yang dianggap dosa besar oleh Tsa’labah adalah SECARA TIDAK SENGAJA melihat seorang perempuan yang sedang mandi. Ketidaksengajaan ini memicu penyesalan dan taubat Tsa’labah. Subhanallah…
Coba kita renungkan perjalanan taubat Tsa’labah radiyallahu ‘anhu dalam kisah ini.
Langkah pertama adalah ketakutannya akan kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini mencerminkan betapa Tsa’labah adalah manusia yang ihsan, dimana ia tahu dan yakin walaupun tidak seorangpun yang bersamanya saat itu. Ia tahu dan sadar betul bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal yang diperbuatnya walaupun tidak secara sengaja.
Ketakutan Tsa’labah ini menuntun Tsa’labah pada langkah selanjutnya, yaitu penyesalan. Penyesalan yang penuh sujud dan tangis selama 40 hari. Hingga akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Jibril alaihissalam kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam untuk mengabarkan berita tentang Tsa’labah yang sedang bertaubat di atas pegunungan. Bahkan setelah dijemput, Tsa’labah masih dalam nuansa penyesalan, malu dan takut sehingga ketika ia mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membaca sebuah ayat dalam sholat ia pingsan. Sebuah penyesalan yang berujung dengan derita sakit, hingga Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan ke-agungan-Nya dan memberikan ampunan-Nya kepada Tsa’labah.
Tahap terakhir adalah ampunan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap Tsa’labah. Sungguh, sangat terlihat betapa Allah subhanahu wa ta’ala mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Jika seorang hamba sudah bertaubat dan dating kepada Allah dengan membawa dosa seisi dunia, maka akan disambut-Nya dengan ampunan yang seisi dunia pula. Subhanalah… ya Ghofur.. ya Rahiim..
Taubat adalah rizki dari Allah. Sebuah kenikmatan yang sering dilupakan manusia. Allah subhanahu wa ta’ala membuka pintu taubat yang sebesar-besarnya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Selama hamba-Nya itu tidak mempersekutukan-Nya, maka nikmat taubat itu ada untuknya. Gratis! Subhanallah…
Adalah sebuah kemuliaan untuk memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan permohonan ampun adalah sebaik-baiknya permohonan. Walahu’alam bishshawwab.

—^^^—^^^—
Inilah kisah seorang Tsa’labah
Jika terjadi pada diri
Akankah menyesali
dan tak akan mengulangi?
Semoga Bermanfaat…

Note:
Kisah ini dikisahkan oleh Jabir bin Abdullah al-Anshari, dikutip dari mukhtasar Kitab at-Tawwabiin, karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi. Edisi Indonesia: “Kisah Orang-orang yang Bertobat” , penerbit: Lentera, Jakarta. Cetakan ke-2 Th. 2000.

sumber : https://pakdeazemi.wordpress.com/2011/11/10/kisah-tsa’labah-bin-abdurrahman-radiyallahu-‘anhu/

Si Tukang Batu Yang Di Cium Rasulullah

Tidak ada komentar:
Si Tukang Batu Yang Di Cium Rasulullah



Diriwayatkan pada saat itu Rasulullah baru tiba dari Tabuk, peperangan dengan bangsa Romawi yang kerap menebar ancaman pada kaum muslimin.
Banyak sahabat yang ikut beserta Nabi dalam peperangan ini. Tidak ada yang tertinggal kecuali orang-orang yang berhalangan dan ada uzur.
Saat mendekati kota Madinah, di salah satu sudut jalan, Rasulullah berjumpa dengan seorang tukang batu. Ketika itu Rasulullah melihat tangan buruh tukang batu tersebut melepuh, kulitnya merah kehitam-hitaman seperti terpanggang matahari.
Sang manusia Agung itupun bertanya, “Kenapa tanganmu kasar sekali?”
Si tukang batu menjawab, “Ya Rasulullah, pekerjaan saya ini membelah batu setiap hari, dan belahan batu itu saya jual ke pasar, lalu hasilnya saya gunakan untuk memberi nafkah keluarga saya, karena itulah tangan saya kasar.”

Rasulullah adalah manusia paling mulia, tetapi orang yang paling mulia tersebut begitu melihat tangan si tukang batu yang kasar karena mencari nafkah yang halal, Rasul pun menggenggam tangan itu, dan menciumnya seraya bersabda,
“Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada”, ‘inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya’.

* Rasulullah tidak pernah mencium tangan para Pemimpin Quraisy, tangan para Pemimpin Khabilah, Raja atau siapapun. Sejarah mencatat hanya putrinya Fatimah Az Zahra dan tukang batu itulah yang pernah dicium oleh Rasulullah. Padahal tangan tukang batu yang dicium oleh Rasulullah justru tangan yang telapaknya melepuh dan kasar, kapalan, karena membelah batu dan karena kerja keras.
Suatu ketika seorang laki-laki melintas di hadapan Rasulullah. Orang itu di kenal sebagai pekerja yang giat dan tangkas. Para sahabat kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, andai bekerja seperti dilakukan orang itu dapat digolongkan jihad di jalan Allah (Fi sabilillah), maka alangkah baiknya.”
Mendengar itu Rasul pun menjawab, “Kalau ia bekerja untuk menghidupi anak-anaknya yang masih kecil, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk menghidupi kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka itu fi sabilillah; kalau ia bekerja untuk kepentingan dirinya sendiri agar tidak meminta-minta, maka itu fi sabilillah.” (HR Thabrani)
* Orang-orang yang pasif dan malas bekerja, sesungguhnya tidak menyadari bahwa mereka telah kehilangan sebagian dari harga dirinya, yang lebih jauh mengakibatkan kehidupannya menjadi mundur. Rasulullah amat prihatin terhadap para pemalas.
”Maka apabila telah dilaksanakan shalat, bertebaranlah kam di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. (QS. Al-Jumu’ah 10)
”Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi ini”. (QS Nuh19-20)

* ”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)
”Siapa saja pada sore hari bersusah payah dalam bekerja, maka sore itu ia diampuni”. (HR. Thabrani dan lbnu Abbas)
”Tidak ada yang lebih baik bagi seseorang yang makan sesuatu makanan, selain makanan dari hasil usahanya. Dan sesungguhnya Nabiyullah Daud, selalu makan dan hasil usahanya”. (HR. Bukhari)
”Sesungguhnya di antara dosa-dosa itu, ada yang tidak dapat terhapus dengan puasa dan shalat”. Maka para sahabat pun bertanya: “Apakah yang dapat menghapusnya, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: ”Bersusah payah dalam mencari nafkah.” (HR. Bukhari)
”Barangsiapa yang bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya, maka sama dengan pejuang dijaIan Allah ‘Azza Wa Jalla”. (HR. Ahmad)

sumber : www.duniaislam.org/11/04/2015/kisah-teladan-islami-si-tukang-batu-yang-di-cium-rasulullah-saw/

Rabu, 25 November 2015

Masih Beranikah Kamu Tidak Solat?

Tidak ada komentar:

Bismillahir-Rah maanir-Rahim ...

Kisah ini diceritakan oleh seorang ustaz yang bertugas memandikan mayat orang Islam di hospital. Lebih kurang jam 3.30 pagi, saya menerima panggilan dari Hospital Tengku Ampuan Rahimah Klang, Selangor untuk menguruskan jenazah lelaki yang sudah seminggu tidak dituntut. Di luar bilik mayat itu cukup dingin dan gelap serta sunyi dan hening.

Hanya saya dan seorang penjaga bilik tersebut yang berada dalam bilik berkenaan. Saya membuka dengan hati-hati penutup muka jenazah. Kulitnya putih, badannya kecil dan berusia awal 20-an. Allah Maha Berkuasa. Tiba-tiba saya lihat muka jenazah itu sedikit demi sedikit bertukar menjadi hitam. Mulanya saya tidak menganggap ia sebagai aneh, namun apabila semakin lama semakin hitam, hati saya mula bertanya-tanya. Saya terus menatap perubahan itu dengan teliti, sambil di hati tidak berhenti-henti membaca ayat-ayat suci Al-Quran. Detik demi detik berlalu, wajah jenazah semakin hitam. Selepas lima minit berlalu, barulah ia berhenti bertukar warna. Ketika itu wajah mayat berkenaan tidak lagi putih seperti warna asalnya, tetapi hitam seperti terbakar. Saya keluar dari bilik berkenaan dan duduk termenung memikirkan kejadian aneh yang berlaku itu. Pelbagai pertanyaan timbul di kepala saya apakah yang sebenarnya telah terjadi? Siapakah pemuda itu? Mengapa wajahnya bertukar hitam? Persoalan demi persoalan muncul di fikiran saya.

Sedang saya termenung tiba-tiba saya dapati ada seorang wanita berjalan menuju ke arah saya. Satu lagi pertanyaan timbul, siapa pula wanita ini yang berjalan seorang diri di bilik mayat pada pukul 4.00 pagi. Semakin lama dia semakin hampir, dan tidak lama kemudian berdiri di hadapan saya. Dia berusia 60-an dan memakai baju kurung.

Ustaz," kata wanita itu."Saya dengar anak saya meninggal dunia dan sudah seminggu mayatnya tidak dituntut. Jadi saya nak tengok jenazahnya." kata wanita berkenaan dengan lembut.


Walaupun hati saya ada sedikit tanda tanya, namun saya membawa juga wanita itu ke tempat jenazah tersebut. Saya tarik laci 313 dan buka kain penutup wajahnya

"Betulkah ini mayat anak mak cik?"tanya saya."Mak cik rasa betul... tapi kulitnya putih."Makcik lihatlah betul-betul." kata saya. Selepas ditelitinya jenazah berkenaan,wanita itu begitu yakin yang mayat itu adalah anaknya. Saya tutup kembali kain penutup mayat dan menolak kembali lacinya ke dalam dan membawa wanita itu keluar dari bilik mayat. Tiba di luar saya bertanya kepadanya.

"Mak cik, ceritakanlah kepada saya apa sebenarnya yang berlaku sampai wajah anak mak cik bertukar jadi hitam?" tanya saya.Wanita itu tidak mahu menjawab sebaliknya menangis teresak-esak.Saya ulangi pertanyaan tetapi ia masih enggan menjawab.Dia seperti menyembunyikan sesuatu."Baiklah, kalau mak cik tidak mahu beritahu,saya tak mahu uruskan jenazah anak mak cik ini. "kata saya untuk menggertaknya.

Bila saya berkata demikian, barulah wanita itu membuka mulutnya.Sambil mengesat airmata, dia berkata,"Ustaz, anak saya ni memang baik,patuh dan taat kepada saya.Jika dikejutkan di waktu malam atau pagi supaya buat sesuatu kerja,dia akan bangun dan buat kerja itu tanpa membantah sepatahpun.Dia memang anak yang baik.Tapi..." tambah wanita itu lagi "apabila makcik kejutkan dia untuk bangun sembahyang,Subuh misalnya, dia mengamuk marahkan mak cik.Kejutlah dia, suruhlah dia pergi ke kedai,dalam hujan lebat pun dia akan pergi, tapi kalau dikejutkan supaya bangun sembahyang,anak makcik ini akan terus naik angin.Itulah yang mak cik kesalkan." kata wanita tersebut.

Jawapannya itu memeranjatkan saya.Teringat saya kepada hadis nabi bahawa barang siapa yang tidak sembahyang,maka akan ditarik cahaya iman dari wajahnya.Mungkin itulah yang berlaku.Wajah pemuda itu bukan sahaja ditarik cahaya keimanannya,malah diaibkan dengan warna yang hitam.

Selepas menceritakan perangai anaknya,wanita tersebut meminta diri untuk pulang.Dia berjalan dengan pantas dan hilang dalam persekitaran yang gelap.Kemudian saya pun memandikan, mengapankan dan menyembahyangkannya.

Selesai urusan itu, saya kembali ke rumah semula.Saya perlu balik secepat mungkin kerana perlu bertugas keesokan harinya sebagai imam di Masjid Sultan Sallehuddin Abdul Aziz Shah, Shah Alam.Selang dua tiga hari kemudian, entah kenapa hati saya begitu tergerak untuk menghubungi waris mayat pemuda tersebut. Melalui nombor telefon yang diberikan oleh Hospital Tengku Ampuan Rahimah,saya hubungi saudara Allahyarham yang agak jauh pertalian persaudaraannya.

Selepas memperkenalkan diri, saya berkata,"Encik, kenapa encik biarkan orang tua itu datang ke hospital seorang diri di pagi-pagi hari.Rasanya lebih elok kalau encik dan keluarga encik yang datang sebab encik tinggal di Kuala Lumpur lebih dekat dengan Klang."Pertanyaan saya itu menyebabkan dia terkejut,"Orang tua mana pula?" katanya.

Saya ceritakan tentang wanita berkenaan, tentang bentuk badannya,wajahnya, tuturannya serta pakaiannya."Kalau wanita itu yang ustaz katakan,perempuan itu adalah emaknya, tapi.... emaknya dah meninggal lima tahun lalu!"Saya terpaku, tidak tahu apa yang hendak dikatakan lagi.Jadi 'apakah' yang datang menemui saya pagi itu?

Walau siapa pun wanita itu dalam erti kata sebenarnya,saya yakin ia adalah 'sesuatu' yang Allah turunkan untuk memberitahu kita apa yang sebenarnya telah berlaku hingga menyebabkan wajah pemuda berkenaan bertukar hitam.Peristiwa tersebut telah terjadi lebih setahun lalu, tapi masih segar dalam ingatan saya.Ia mengingatkan saya kepada sebuah hadis nabi,yang bermaksud bahawa jika seseorang itu meninggalkan sembahyang satu waktu dengan sengaja,dia akan ditempatkan di neraka selama 80,000 tahun.Bayangkanlah seksaan yang akan dilalui kerana satu hari di akhirat bersamaan dengan seribu tahun di dunia.
Kalau 80,000 tahun?

Ingatlah..azab meninggalkan solat fardhu ini amat dahsyat dan tidak putus-putus seksaannya dari kehidupan dunia hinggalah kehidupan akhirat..Semoga kita semua mengambil iktibar dari cerita ini dan menjadi orang yang sentiasa menjaga solat, InsyaAllah..

SUMBER : https://www.facebook.com/notes/pay-pecinta-anak-yatim/kisahnyata-akibat-meninggalkan-sholat-waspadalah/10151874679612802

Rabu, 18 November 2015

Kisah Tsa'labah Yang Kufur Nikmat

Tidak ada komentar:
Siang itu Rasululah sedang sholat berjama’ah di masjid bersama para sahabat beliau. Diantara sederetan para sahabat yang makmum di belakang Rasulullah, nampak seorang tengah baya yang kusut rambutnya dengan berpakaian lusuh. Ia dikenal sebagai seorang sahabat Rasululah yang tekun beribadah.

SETELAH Rasulullah menyelesaikan sholat, sahabat berpakaian lusuh itu segera beranjak pulang tanpa membaca wirid dan berdoa terlebih dahulu. Rasulullah menegurnya, “Tsa’labah!... Mengapa engkau tergesa-gesa pulang? Tidakah engkau berdoa terlebih dahulu? Bukankah tergesa-gesa keluar dari masjid adalah kebiasaan orang-orang munafik?”

       Tsa’labah menghentikan langkahnya, ia sangat malu ditegur oleh Rasulullah, tetapi apa mau dikata, terpaksa ia berterus terang kepada Rasulullah,

       “Wahai Rasululah.... Kami hanya memiliki sepasang pakaian untuk sholat dan saat ini istriku di rumah belum melaksanakan sholat karena menunggu pakaian yang aku kenakan ini. Pakaian yang hanya sepasang ini kami pergunakan sholat secara bergantian. Kami sangat miskin. Untuk itu, Wahai Rasul.... jika engkau berkenan, doakanlah kami agar Allah menghilangkan semua kemiskinan kami dan memberi rejeki yang banyak.”

       Rasulullah tersenyum mendengar penuturan Tsa’labah, lalu beliau berkata,

       “Tsa’labah sahabatku..., engkau dapat mensyukuri hartamu yang sedikit, itu lebih baik daripada engkau bergelimang harta tetapi engkau menjadi manusia yang kufur”.

       Nasehat Rasulullah sedikit menghibur hati Tsa’labah, karena sesungguhnya yang ada dalam benaknya adalah ia sudah bosan menjalani hidup yang serba kekurangan. Satu-satunya cara agar cepat menjadi kaya adalah memohon doa kepada Rasulullah, karena doa seorang utusan Allah pasti didengar Allah. Itulah yang selalu menjadi angan-angan Tsa’labah, hingga keesokan harinya ia kembali menemui Rasulullah dan memohon agar beliau mau medoakannya agar menjadi orang kaya.

       Rasulullah kembali menasehati, “Wahai Tsa’labah.. Demi Dzat diriku berada di tanganNya. Seandainya aku memohon kepada Allah agar gunung Uhud menjadi emas, Allah pasti mengabulkan. Tetapi apa yang terjadi jika gunung Uhud benar-benar menjadi emas, masjid-masjid akan sepi!. Semua orang akan sibuk menumpuk kekayaan dari gunung itu! Aku khawatir jika engkau menjadi orang kaya, engkau akan lupa beribadah kepada Allah..”

       Tsa’labah terdiam mendengar nasehat Rasulullah namun dalam hatinya terkecamuk,

       “Aku mengerti Rasulullah tidak mau mendoakan karena beliau sayang kepadaku. Beliau khawatir jika aku menjadi orang kaya, aku akan menjadi golongannya orang-orang yang kufur. Tetapi aku tidak seburuk itu, justru dengan kekayaan yang kumiliki aku akan membela agama ini dengan hartaku...”

       Akhirnya Tsa’labah pulang. Ia merasa malu apabila terus memaksa Rasulullah agar mau mendoakannya. Namun keesokan harinya ia tidak kuasa menahan dorongan hatinya untuk segera terbebas dari belenggu kemiskinan yang kian menghimpitnya. Ditemuinya Rasulullah, ia memohon untuk yang ketiga kalinya agar Rasulullah mau mendoakannya. Kali ini Rasulullah tidak bisa menolak keinginan Tsa’labah, beliau mengadahkan tangan ke langit... “Ya Allah... Limpahkanlah rejekiMu kepada Tsa’labah”

       Kemudian Rasulullah memberikan kambing betina yang sedang bunting kepada Tsa’labah. “Peliharalah kambing ini baik-baik....” pesan Rasulullah.

       Tsa’labah pulang membawa kambing pemberian Rasulullah dengan hati yang berbunga-bunga. “Dengan modal kambing serta doa Rasulullah, aku yakin aku akan menjadi orang yang kaya raya”.

       Hari berganti hari, bulan berganti bulan, Tsa’labah yang dulu miskin dan lusuh telah berubah menjadi orang kaya yang terpandang. Kambingnya berjumlah ribuan. Disetiap lembah dan bukit terdapat kambing-kambing Tsa’labah.

       Pagi itu Tsa’labah berjalan-jalan meninjau kandang-kandang kambing yang sudah tidak sesuai dengan jumlah kambing yang terus berkembang biak.

       “Hmm.. Aku harus pindah dari sini, mencari lahan yang lebih luas untuk menampung kambing-kambingku...”

       Akhirnya Tsa’labah menemukan lahan yang luas di pinggiran madinah. Di sana ia membangun kandang-kandang  baru yang lebih besar. Namun demikian perkembangan kambing-kambing Tsa’labah bagaikan air bah yang sulit di bendung. Kandang-kandang yang baru dibangun itu pun sudah penuh sesak oleh ribuan kambing. Dengan demikian setiap hari Tsa’labah disibukkan mengurus harta kekayaannya. Ia yang dulu setiap sholat lima waktu selalu berjamaah di masjid, sekarang hanya datang ke masjid pada waktu sholat Dzuhur dan Ashar saja.

       Kini kandang-kandang yang baru dibangun Tsa’ labah di pinggiran Madinah sudah tidak lagi memenuhi syarat. Maka ia memutuskan untuk mencari area yang lebih luas lagi. Tentu saja area yang masih sangat luas itu berada jauh di luar Madinah. Tsa’labah sudah tidak memikirkan lagi bagaimana ibadahnya bila jauh dari Madinah. Kepalanya sudah dipenuhi dengan hubbuddunya, hingga ia datang ke masjid hanya seminggu sekali yaitu pada waktu sholat Jum’at. Dengan semakin derasnya harta yang mengalir dirumah Tsa’labah, kini ia lebih senang tinggal dirumah daripada jauh-jauh datang ke masjid, bahkan sholat Jum’at pun ia tidak datang ke masjid..!

       Sampai Rasulullah bertanya-tanya, “Wahai sahabatku... sudah sekian lama Tsa’labah tidak kelihatan di masjid. Tahukah kalian bagaimana keadaannya sekarang?”

       “Wahai Rasulullah... Tsa’labah sudah menjadi orang kaya. Lembah-lembah di Madinah maupun diluar Madinah, telah penuh sesak dengan kambing-kambing Tsa’labah...”

       “Benarkah? Mengapa ia tidak pernah menyerahkan shodakohnya sedikitpun?”

       Setelah Allah menurunkan ayat tentang kewajiban zakat. Rasulullah mengutus dua orang sahabat untuk menjadi amil zakat. Seluruh umat Islam di Madinah yang hartanya dipandang sudah nishob zakat didatangi, tak terkecuali Tsa’labah pun mendapat giliran. Kedua utusan Rasulullah membacakan ayat zakat dihadapan Tsa’labah. Kemudian setelah dihitung dari seluruh harta kekayaannya ternyata memang banyak harta Tsa’labah yang harus diserahkan sebagai zakat. Tak disangka, Tsa’labah mukanya berubah merah, ia berang...

       “Apa-apaan ini! Kalian mengatakan ini zakat..! Tetapi menurutku ini lebih tepat disebut upeti! Pajak! Sejak kapan Rasulullah menarik upeti! Hahh..?! Aku bisa rugi! Kalian pulang saja. Aku tidak mau menyerahkan hartaku..!”

       Kedua utusan Rasulullah kembali menghadap Rasulullah dan menceritakan semua perbuatan Tsa’labah. Beliau bersedih telah kehilangan seorang sahabat yang dulu tekun beribadah ketika miskin namun setelah kaya ia telah terpengaruh dengan harta kekayaannya.

       “Sungguh celaka Tsa’labah! Celakalah ia!”
       Kemudian Allah menurunkan ayat 75 dalam surat At Taubah, tentang ciri-ciri orang munafik.

       Ayat itu segera menyebar ke seluruh muslimin di Madinah, hingga ada salah seorang kerabat Tsa’labah yang datang memberitahunya..” Celakalah engkau Tsa’labah! Allah telah menurunkan ayat karena perbuatanmu!”

       Tsa’labah tertegun, ia baru sadar bahwa nafsu angkara murka telah lama memperbudaknya. Kini ia bergegas menghadap Rasulullah dengan membawa zakat dari seluruh hartanya. Namun Rasulullah tidak berkata apa-apa kecuali hanya sepatah kata, “Sebab kedurhakaanmu, Allah melarangku untuk menerima zakatmu!”

       Rasulullah mengambil segenggam tanah lalu ditaburkan diatas kepala Tsa’labah...“Inilah perumpamaan amalanmu selama ini... sia-sia belaka! Aku telah peintahkan agar engkau menyerahkan zakat, tetapi engkau menolak. Celakalah engkau Tsa’labah!”

       Tsa’labah berjalan lunglai kembali kerumahnya. Hari-hari dalam hidupnya hanya dipenuhi dengan penyesalan yang tiada arti. Sampai suatu hari terdengar kabar Rasulullah telah wafat, ia semakin bersedih karena taubatnya tidak diterima oleh Rasulullah hingga beliau wafat.

       Tsa’labah mencoba mendatangi khalifah Abu Bakar sebagai pengganti Rasulullah. Ia datang dengan membawa zakatnya. Apakah Abu Bakar menerimanya? Abu Bakar hanya berkata, “Rasulullah saja tidak mau menerima zakatmu, bagaimana mungkin aku menerima zakatmu?”

       Demikian pula di jaman kekhalifahan Umar bin Khattab, Tsa’labah mencoba menyerahkan zakatnya. Umar pun tidak mau menerima sebagaimana Rasulullah dan Abu Bakar tidak mau menerima zakatnya. Bahkan sampai khalifah Utsman bin Affan juga tidak mau menerima zakat Tsa’labah karena Rasulullah, Abu Bakar dan Umar tidak mau menerima zakatnya.

       Kehidupan yang hina dan penuh kemurkaan Allah telah menimpa seorang sahabat Rasulullah yang telah tenggelam di dalam gelimang harta hingga menyeretnya ke lembah kemunafikan. Ia telah melalaikan kewajibannya. Ia telah mengingkari janji-janjinya. Ia telah melecehkan kemuliaan Allah dan RasulNya, sehingga membuahkan penderitaan yang kekal abadi di dalam neraka.***

HR “IBNU JARIR”
DALAM TAFSIR IBNU KATSIR

SUMBER: https://armymanshurin.wordpress.com/2011/06/14/kisah-tsalabah/
 
 
back to top