Sabtu, 28 November 2015

Kisah Tsa’labah bin Abdurrahman Sang Remaja Mulia

Tidak ada komentar:
Kisah Tsa’labah bin Abdurrahman Sang Remaja Mulia



Inilah kisah tentang Tsa’labah 
Pemuda Anshar pd zaman Nabi
Tugas Nabi ia jalani
Tak sengaja melihat perempuan mandi
Tsa’labah sadar diri
Takut alang kepalang
Berlari ia terus mendaki
Bersembunyi di sebuah gunung
40 hari Tsa’labah pergi
Sang Nabi merasa kehilangan
Dan Jibril datang membawa berita
Tentang laki-laki yg menyesali diri
Umar (ibn Khaththab) dan Salman (al-Farisi)
Diutus Nabi menjemput Tsa’labah
Kesana kemari sampailah jua
Pada perbukitan sekitar Madinah
Ada seorang laki-laki di bukit ini
Ia berlari dari Neraka Jahannam
Demikian informasi seorang gembala
Umar dan Salman terpana
Ketika malam tiba
Laki-laki itu keluar dari bukit itu
Tangannya diletakkan di kepala
Seraya berkata kepada Tuhan-nya
Oh Tuhan!
Cabut saja nyawaku
Binasakan tubuhku
Jangan biarkan aku menunggu keputusan-Mu
Lalu mereka menjemput Tsa’labah
Terkejut ia berjumpa dua sahabat
Ingin ia berlari
Tapi kembali adalah perintah Nabi
Tsa’labah malu bersua Nabi
Bersedia datang tak bertatap muka
Tak kuasa ia roboh lalu pingsan
Dalam shaf sebuah shalat
Bertanyalah sang Nabi pd Tsa’labah
“Mengapa kau menghilang dariku?”
“Dosaku! Dosaku! Ya Rasulullah…
Dosaku sangat besar!”
Lalu Nabi mengajarkan sebuah do’a (QS. 2: 201)
“Dosaku sangat besar”
Tapi kalamullah lebih besar
Demikian sabda sang Nabi


Pulanglah Tsa’labah dalam penyesalannya
Tubuhnya rubuh dan sakit mendera
Delapan hari ia terbaring tak berdaya
Dan Nabi datang menjenguknya
Kepala Tsa’labah diletakkan di pangkuan
Seorang Nabi dgn penuh kasih
Tapi Tsa’labah enyah
Tak pantas karena dosa katanya
Apa yg kau rasa wahai Tsa’labah?
Bertanya sang Nabi
Seperti dikerubut semut
Tulang, daging, dan kulitku
Apa yang kau inginkan duhai sahabat?
Ampunan Tuhan-ku!
Ketika itu Jibril datang membawa berita
Bahwa Allah telah mengampuninya
Tenaglah hati si pembuat dosa
Tsa’labah pergi untuk selamanya
Dan malaikatpun ramai melayat
Jasad terbujur seorang ahli taubat
Inilah kisah seorang Tsa’labah
Jika terjadi pada diri
Akankah menyesali
dan tak akan mengulangi?
**DM-Ruang Renung, 20111110
—^^^—^^^—

Tsa’labah bin Abdurrahman Radiyallahu ‘anhu
Tersebutlah seorang pemuda dari kaum anshar yang bernama Tsa’labah bin Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam dan cekatan. Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam mengutusnya untuk suatu keperluan.

Dalam perjalanannya dia melewati rumah salah seorang dari Anshar, maka terlihat dirinya seorang wanita Anshar yang sedang mandi. Dia takut akan turun wahyu kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam menyangkut perbuatannya itu. Maka dia pun pergi kabur.
Dia berlari menuju ke sebuah gunung yg berada diantara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya. Tsa’labah tinggal disana dan senantiasa bertaubat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menangis selama empat puluh hari. Kepergian Tsa’labah membuat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam merasa kehilangan.
Lalu Jibril alaihissalam turun kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, `Sesungguhnya seorang laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku.'”
Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan para sahabatnya untuk mencari Tsa’labah. Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam berkata, “Wahai Umar (ibn Khaththab) dan Salman (al-Farisi)! Pergilah cari Tsa’labah bin Aburrahman, lalu bawa kemari.”
Keduanya pun lalu pergi hingga sampailah mereka menyusuri perbukitan di sekitar Madinah. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah.

Umar bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu seorang pemuda di antara perbukitan ini?”

Penggembala itu menjawab, “Apakah yang engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?”
“Bagaimana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam?” tanya Umar.
Dzaufafah menjawab, “Karena, apabila malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusan-Mu!”

“Ya, dialah yang kami maksud,” tegas Umar.
Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama.

Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Wahai Tuhan!, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan-Mu!”
Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya.

Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?”
“Aku tidak tahu, yg jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu.”, jawab Umar.
Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan shalat”

Ketika mereka menemukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam tengah melakukan shalat, Umar dan Salman radiyalahu ‘anhuma segera mengisi shaf. Tatkala Tsa’labah mendengar bacaan ayat Allah yang dibaca Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam, dia tersungkur dan jatuh pingsan.
Setelah Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam mengucapkan salam, beliau bersabda, “Wahai Umar! Wahai Salman! Apakah yang telah kau lakukan Tsa’labah?”
Keduanya menjawab, “Ini dia, wahai Rasulullah!”

Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan Tsa’labah yg membuatnya tersadar.
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berkata kepadanya, “Mengapa engkau menghilang dariku?”
Tsa’labah menjawab, “Dosaku, ya Rasulullah!”

Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam mengatakan, “Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yang apat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?”
“Benar, wahai Rasulullah.”, jawab Tsa’labah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Katakan… Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka.” (QS al-Baqarah: 201)
Tsa’labah berkata, “Dosaku wahai Rasulullah, sungguh sangat besar.”
Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Akan tetapi kalamullah lebih besar.”

Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan Tsa’labah agar pulang kerumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama delapan hari.
Mendengar Tsa’labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa’labah? Dia sekarang sedang sakit keras.”

Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa’labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa’labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau.
“Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?” tanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam.
“Karena aku penuh dengan dosa.” Jawabnya
Beliau bertanya lagi, “Bagaimana yang engkau rasakan?”
“Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku.” Jawab Tsa’labah.
Beliau bertanya, “Apa yang kau inginkan?”
“Ampunan Tuhanku”, jawabnya.

Maka turunlah Jibril ‘alaihissalam dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, `Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula.’ (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka segera Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membertahukan hal itu kepada Tsa’labah. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa’labah dan langsung meninggal.
Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam memerintahkan agar Tsa’labah segera dimandikan dan dikafani.

Ketika telah selesai menyalatkan, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat.”
Beliau shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Karena banyaknya malaikat yang turun melayat Tsa’labah.”

Subhanallah… Allahu Akbar!
Kisah Tsa’labah radiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang mulia. Ada banyak hikmah dari kisah ini, terutama keagungan sikap Tsa’labah dalam menyikapi rasa bersalahnya. Sebuah kesalahan yang mungkin dianggap sepele oleh kita, namun tidak untuk seorang Tsa’labah.

Yang dianggap dosa besar oleh Tsa’labah adalah SECARA TIDAK SENGAJA melihat seorang perempuan yang sedang mandi. Ketidaksengajaan ini memicu penyesalan dan taubat Tsa’labah. Subhanallah…
Coba kita renungkan perjalanan taubat Tsa’labah radiyallahu ‘anhu dalam kisah ini.
Langkah pertama adalah ketakutannya akan kuasa Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini mencerminkan betapa Tsa’labah adalah manusia yang ihsan, dimana ia tahu dan yakin walaupun tidak seorangpun yang bersamanya saat itu. Ia tahu dan sadar betul bahwa Allah Maha Mengetahui segala hal yang diperbuatnya walaupun tidak secara sengaja.
Ketakutan Tsa’labah ini menuntun Tsa’labah pada langkah selanjutnya, yaitu penyesalan. Penyesalan yang penuh sujud dan tangis selama 40 hari. Hingga akhirnya Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Jibril alaihissalam kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam untuk mengabarkan berita tentang Tsa’labah yang sedang bertaubat di atas pegunungan. Bahkan setelah dijemput, Tsa’labah masih dalam nuansa penyesalan, malu dan takut sehingga ketika ia mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam membaca sebuah ayat dalam sholat ia pingsan. Sebuah penyesalan yang berujung dengan derita sakit, hingga Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan ke-agungan-Nya dan memberikan ampunan-Nya kepada Tsa’labah.
Tahap terakhir adalah ampunan Allah subhanahu wa ta’ala terhadap Tsa’labah. Sungguh, sangat terlihat betapa Allah subhanahu wa ta’ala mencintai hamba-hamba-Nya yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Jika seorang hamba sudah bertaubat dan dating kepada Allah dengan membawa dosa seisi dunia, maka akan disambut-Nya dengan ampunan yang seisi dunia pula. Subhanalah… ya Ghofur.. ya Rahiim..
Taubat adalah rizki dari Allah. Sebuah kenikmatan yang sering dilupakan manusia. Allah subhanahu wa ta’ala membuka pintu taubat yang sebesar-besarnya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Selama hamba-Nya itu tidak mempersekutukan-Nya, maka nikmat taubat itu ada untuknya. Gratis! Subhanallah…
Adalah sebuah kemuliaan untuk memohon ampun kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan permohonan ampun adalah sebaik-baiknya permohonan. Walahu’alam bishshawwab.

—^^^—^^^—
Inilah kisah seorang Tsa’labah
Jika terjadi pada diri
Akankah menyesali
dan tak akan mengulangi?
Semoga Bermanfaat…

Note:
Kisah ini dikisahkan oleh Jabir bin Abdullah al-Anshari, dikutip dari mukhtasar Kitab at-Tawwabiin, karya Ibnu Qudamah al-Maqdisi. Edisi Indonesia: “Kisah Orang-orang yang Bertobat” , penerbit: Lentera, Jakarta. Cetakan ke-2 Th. 2000.

sumber : https://pakdeazemi.wordpress.com/2011/11/10/kisah-tsa’labah-bin-abdurrahman-radiyallahu-‘anhu/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
back to top